5 Ledakan bom di Surabaya dalam kurun waktu 25 jam

Discussion in 'BERITA' started by santosoland, May 14, 2018.

  1. santosoland

    santosoland Kids Jaman Now
    Thread Starter

    Joined:
    Oct 16, 2017
    Threads:
    190
    Messages:
    314
    Likes Received:
    16
    Disliked:
    0
    Trophy Points:
    11
    utf-bom-seo.jpg

    Rentetan ledakan bom terjadi dalam kurun kurang-lebih 25 jam di Jawa Timur. Sampai saat ini, terjadi 5 ledakan di Surabaya dan Sidoarjo.

    Peristiwa biadab itu terjadi mulai Minggu (13/5) kemarin pukul 07.13 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya. Menyusul kemudian ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno serta Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan Raya Diponegoro. Tiga lokasi itu berada di Surabaya.

    Pengeboman itu, disebut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dilakukan oleh pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya bernama Dita Oepriarto dan keluarganya. Dita mengajak serta istrinya, Puji Kuswati, serta 4 anaknya dalam melancarkan aksi tersebut.

    Dita mengemudikan mobil berisi bom yang diledakkan di Gereja Pantekosta. Sedangkan Puji beserta 2 putrinya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia, lalu 2 putra Dita dan Puji mengendarai motor serta meledakkan diri di Gereja Katolik Santa Maria.

    Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung mengatakan total ada 14 orang yang tewas dalam peristiwa tersebut, termasuk keenam pengebom itu. "Untuk peristiwa di Surabaya, meninggal dunia ada 14 orang," ucap Frans.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) terbang langsung dari Jakarta ke Surabaya terkait peristiwa itu. Jokowi memberikan instruksi bagi Polri untuk benar-benar memerangi terorisme.

    Namun, pada malam harinya, sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom lain terjadi di sebuah rusunawa di kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam peristiwa itu, 3 terduga pelaku teror tewas, yaitu terduga pelaku teroris bernama Anton (47) beserta istrinya, Puspita Sari (47), dan anak pertamanya, LAR (17).

    Istri dan anaknya tewas akibat ledakan. Sedangkan Anton tewas ditembak polisi karena melawan dan mengancam akan meledakkan bom lagi. Adapun 2 anak Anton dan Puspita, FP (11) dan GHA (11), mengalami luka-luka. Satu lainnya berinisial AR (15) selamat.

    Kemudian ledakan terjadi lagi pada Senin (14/5) sekitar pukul 08.50 WIB di Polrestabes Surabaya. Bom meledak di pos pemeriksaan depan markas Polrestabes.

    Dari rekaman CCTV, awalnya terlihat ada satu mobil berwarna hitam yang masuk ke pos pemeriksaan. Setelah itu, 2 motor juga masuk berdekatan dengan mobil.

    Beberapa detik kemudian, motor tersebut meledak di depan pos pemeriksaan. Sejumlah polisi yang berjaga terkena ledakan.

    Polisi belum memberikan keterangan terkait jumlah korban, baik tewas maupun luka, dalam peristiwa tersebut. Hingga saat ini penanganan masih dilakukan di tempat kejadian perkara.
     
    #1

Share This Page